8/15/2013

Agus Dermawan T
Kritikus dan kurator seni rupa. Lahir di Rogojampi, Jawa Timur, 29 April 1952. Menempuh pendidikan terakhir di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, jurusan seni lukis. Tahun 1977 berhenti melukis dan total terjun sebagai penulis seni rupa professional. Dalam bidang penulisan memperoleh 14 penghargaan dalam bidang seni rupa dan sastra.

Sejak tahun 1974, lebih dari 1000 judul tulisannya telah dipublikasikan di Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaharuan, Media Indonesia, Tempo, Gatra, Femina, Editor, Horison, Republika, dll. Belasan buku monografinya telah terbit, diantaranya tentang pelukis Widajat, Basoeki Abdullah, Dullah, Dede Eri Supria, Hendra Gunawan, Nyoman Gunarsa, Arie Smit, Krijono, Koempoel. Juga tentang Rearngsak Boonuyavanishkul (Muangthai), Shi Hu (Cina), Li Shuji (Cina), Choo Keng Kwang (Singapura). Ia juga menyusun kitab Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia dan Antologi Seni 2003. dan melakukan kunjungan dan pengamatan senirupa di berbagai museum dan galeri, di hampir seluruh penjuru Eropa, Amerika dan Asia yang memiliki percaturan dan khazanah seni rupa modern. Juga bekerja sebagai konsultan dan kurator pameran seni lukis, khususnya proyek-proyek Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) dan Balai Lelang Christies Internasional.

sumber :


Pengalaman Agus Dermawan T. Menilai Harga Benda-Benda Seni Istana Kepresidenan

Agus Dermawan T
Ada lebih dari 15 ribu koleksi benda seni di istana-istana negara/kepresidenan di Jakarta, Bogor, Bali, dan Jogja. Setelah dihitung, nilai barang-barang berharga itu mencapai Rp 2 triliun. Kritikus seni rupa Agus Dermawan T. menceritakan pengalamannya meneliti koleksi seni istana tersebut.

SOFYAN HENDRA, Jakarta

DI tengah gemericik air sungai yang bening, enam gadis cantik tengah mandi dan bermain air. Tentu tanpa busana. Dari pinggir kali, seorang pemuda tergopoh menunjukkan selendang milik salah seorang gadis yang semua berambut panjang itu. Seorang di antara gadis-gadis tersebut mungkin malu sambil menutup buah dadanya dengan jemari.

Itulah potret yang tergambar dalam lukisan Jaka Tarub karya pelukis tersohor Basoeki Abdullah. Lho, bukankah dalam dongeng yang kita kenal selama ini ada tujuh bidadari, bukan enam bidadari seperti dalam lukisan Basoeki?

Kata banyak orang, yang satu dibawa Bung Karno, ujar Agus Dermawan T., kurator sekaligus pengamat seni rupa, lantas tersenyum saat ditemui Jawa Pos di rumahnya, kawasan Kelapa Gading, Rabu (13/6) pekan lalu.

Jaka Tarub memang menjadi salah satu lukisan favorit Presiden Soekarno. Lukisan Basoeki Abdullah lain yang dipuja Soekarno adalah Gatotkaca dengan Pergiwa dan Pergiwati. Lukisan yang ceritanya diambil dari kisah Mahabharata itu menggambarkan Pergiwa tengah terpesona memandang Gatotkaca yang terbang gagah.

Bung Karno sangat membanggakan lukisan itu karena menganggap dirinya sama dengan sosok Gatotkaca itu, kata Agus. Hampir setiap ada tamu kehormatan, Bung Karno menunjukkan lukisan kebanggaannya tersebut.

Pada era Soekarno, dua lukisan berukuran 255 x 170 cm itu mendapat tempat strategis di Istana Merdeka, yakni di ruang resepsi. Itu bukan ruang tamu biasa. Itu adalah ruang tempat para presiden menerima tamu-tamu kenegaraan. Pada masa Presiden Habibie, dua lukisan tersebut diturunkan dan dikirim ke Istana Bogor. Tapi, Presiden Megawati mengembalikan dua lukisan itu di tempatnya semula.

Masih banyak lukisan dan benda seni lain yang menjadi koleksi Istana Kepresidenan. Menurut Agus, sejauh ini Istana Merdeka dan Istana Negara, Jakarta, menyimpan 582 lukisan, 303 patung, serta 3.003 benda seni kriya atau kerajinan. Lalu, Istana Bogor: 694 lukisan, 366 patung, dan 2.282 seni kriya. Istana Cipanas: 335 lukisan, 264 patung, dan 423 seni kriya. Istana Jogjakarta (Gedung Agung): 740 lukisan, 354 patung, dan 5.850 seni kriya. Istana Tampaksiring Bali: 291 lukisan, 278 seni patung, dan 210 seni kriya. Pesanggrahan Tenjoresmi Pelabuhan Ratu: 12 lukisan, 2 patung, dan 2 seni kriya.

Banyak koleksi yang menarik. Selain lukisan Basoeki Abdullah, ada karya maestro pelukis lainnya seperti puluhan lukisan Dullah serta belasan karya S. Sudjojono dan Affandi. Ada pula sejumlah lukisan Walter Spies dengan kualitas amat menggoda.

Juga, lukisan Theo Meier dalam ukuran mukibat dengan kualitas hebat. Ada lukisan Fernando Amorsolo. Ada lukisan seniman Meksiko legenda dunia, Diego Rivera. Tentu ada pula beberapa karya Raden Saleh, beber pria kelahiran Rogojampi, Banyuwangi, 29 April 1952, itu.

Selain itu, ada ratusan patung karya seniman mancanegara, ratusan guci antik dari Tiongkok, serta ratusan art work adiluhung kenang-kenangan dari Robert F. Kennedy dari AS hingga Ali Abdullah Saleh dari Yaman.

Agus bersama timnya sejak Maret 2011 hingga Maret 2012 menjadi narasumber ahli Panitia Uji Petik yang bertugas menominalisasi setiap benda seni koleksi Istana Kepresidenan. Tugas tim itu tidak ringan. Mereka harus mendata dan menilai setiap item benda seni yang menghias sudut-sudut Istana Kepresidenan.

Jika tidak akan dijual, mengapa harga benda-benda seni itu perlu ditaksir Menurut Agus, selama ini nilai rupiah benda-benda seni tersebut tidak pernah diestimasi. Sesuai peraturan negara, benda-benda seni tersebut dianggap tidak ada harganya. Dalam neraca di laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP), masing-masing koleksi seni itu hanya dinilai Rp 1 (satu rupiah) atau sekadar memenuhi standar pelaporan akuntansi.

Buntutnya, karena tidak dianggap sebagai aset negara berharga oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, tidak akan ada dana pemeliharaan, penjagaan, perawatan, restorasi, dan pemajangan. Akibatnya, tak sedikit benda seni yang rusak karena tak ada dana untuk perawatan dan restorasi. Padahal, banyak benda seni yang bernilai tinggi hingga miliaran rupiah.

Agus mencontohkan lukisan Konstantin Egrovich Makovsky dari Rusia yang sempat rusak parah. Menurut dia, lukisan berukuran 3 x 4 meter yang bercerita tentang sebuah pesta itu bernilai lebih dari Rp 10 miliar. Butuh biaya besar untuk merestorasi dan membutuhkan teknik tinggi. Akhirnya, lukisan tersebut direstorasi para ahli dari Rusia.

Catnya juga harus dari Rusia. Dicarikan yang jenis dan kualitasnya paling mirip, ungkap pria yang telah menulis 31 buku seni rupa itu.

Agus menyebutkan, kualitas lukisan Rusia itu tak kalah oleh The Night Watch karya pelukis masyhur Rembrandt van Rijn.

Sebelum dinominalisasi, anggaran perawatan benda-benda seni tersebut tidak terlalu jelas. Menurut Agus, kebanyakan dititipkan ke sejumlah pos anggaran di Sekretariat Negara. Tentu saja tidak cukup. Untuk restorasi, misalnya, sejak Presiden Soeharto, istana menyiasatinya dengan melelang sumbangan kepada orang-orang kaya yang dekat istana.

Agus bercerita, selama setahun dirinya harus menginap di istana. Saya beserta tim harus menghitung semua itu di istana masing-masing, ungkap alumnus ASRI (kini ISI) Jogjakarta tersebut.

Saat bertandang ke istana, Agus selalu mengajak istri tercintanya, Iliana Lie. Perempuan yang memberinya seorang putra semata wayang itu juga menemani Agus saat diwawancarai Jawa Pos di kediamannya yang anggun di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, pekan lalu.

Untuk menaksir nilai yang tepat, Agus menggunakan acuan nilai artistik dan nilai historis. Juga, dibandingkan dengan nilai pasar. Semua nilai itu lantas dirujuk pada kondisi karya, jelas kurator berbagai pameran seni rupa Indonesia tersebut.

Cerita-cerita seputar benda seni juga memengaruhi harga. Agus mencontohkan lukisan Jendral Sudirman karya Yoes Soepadyo. Menurut dia, lukisan itu sebenarnya tidak terlalu istimewa. Namun, karena selalu menjadi favorit Soekarno hingga Soeharto, harganya bisa melambung menjadi miliaran rupiah. Soeharto selalu menempatkan lukisan tersebut di belakang meja kerjanya. Jika dipotret oleh media, lukisan itu selalu tampak di belakang Pak Harto, cerita dia.

Lukisan Gatotkaca dengan Pergiwa dan Pergiwati juga menjadi semakin bernilai karena kisahnya di kehidupan Soekarno. Agus memaparkan, Istana Bogor menyimpan koleksi yang paling menarik dan berharga. Di kompleks istana yang bersambungan dengan Kebun Raya Bogor itu, ada lebih dari seratus lukisan Basoeki Abdullah. Di situ pula ada puluhan lukisan berobjek perempuan telanjang warisan Soekarno dengan nilai istimewa.

Pada era Soeharto, koleksi itu dimasukkan kamar khusus oleh Ibu Tien Soeharto. Mungkin takut dilihat Pak Harto. Hehehe…, canda Agus.

Sejak 1980-an, Agus memang sudah mengamati koleksi benda-benda seni istana tersebut. Sampai akhirnya, dia berhasil masuk Istana Negara pada 1981. Kala itu, dia sangat bergembira karena bisa melihat langsung ratusan lukisan karya seniman-seniman besar.

Perjumpaan itu merupakan hal istimewa bagi saya. Sebab, sebelumnya saya hanya bisa melihat reproduksinya dalam buku koleksi lukisan Presiden Soekarno yang saya miliki sejak 1965, ungkapnya.

Sejak kecil Agus memang gemar melukis. Dia pernah beberapa kali turut serta dalam pameran bersama. Pameran terakhir yang diikuti adalah Biennale Seni Lukis Indonesia 1976 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta di TIM. Teman-temannya berujar kepada dia bahwa sudah terlalu banyak pelukis, namun tak banyak yang menulis tentang lukisan. Sejak itu, saya meninggalkan kuas dan kanvas dan terus menulis hingga sekarang, kenang Agus.

Selain menyusun 31 buku, Agus telah menyiarkan 2.300 judul tulisan seni rupa yang dimuat di sekitar 40 media cetak.

Perjumpaan Agus dengan lukisan-lukisan istana bahkan dimulai saat dirinya masih duduk di bangku SMP. Pada 1965, dia sudah mempunyai satu di antara lima jilid buku koleksi lukisan Presiden Soekarno. Itu merupakan hadiah dari ayahnya, Goentoro Tantono, yang menghendaki dirinya menjadi pelukis.

Ayah hanya mampu membeli satu jilid karena harganya mahal. Waktu itu, harga satu buku seharga dua ban truk, kenang Agus yang ayahnya merupakan pengusaha truk itu.(*/c5/ari)

sumber :

0 comments:

Poskan Komentar